well, aku ngga nyangka banget sampe hari ini bisa berdiri dengan memakai seragam putih abu-abu. alhamdulillah, puji syukur aku ucapkan masih diberi kesempatan buat menuntut ilmu sampe SMA. sekarang, aku udah SMA dengan rentan waktu tahap akhir. dan sebentar lagi pastinya akan menjadi anak kuliah. alah.
ini. ini yang sebenernya pengen aku omongin. kuliah. jurusan. dan semua itu ngga luput dari yang namanya pilihan. itu juga yang terjadi sama aku. pilihan. kali ini pilihannya sangatlah W-O-W, teman. kali ini yang dipilih itu jurusan. memilih jurusan bagiku sangatlah berbeda dengan memilih meu makanan di rumah makan padang. jurusan itu cukup serius. (bukan serius lagi)
jurusan identik dengan masa depan (itu dulu) sekarang, beda. banyak kok orang lulusan teknik banting setir jadi pengusaha yang idealnya mempelajari bisnis, aku ngga bisa pungkiri mungkin aja jiwa enterpreneurnya lebih kuat dibanding dengan ilmu yang dia dapat sewaktu kuliah dulu.
ah, aku juga selalu berkaca kok sama perkataan yang bilang kalo rezeki itu udah ada yang ngatur. so, seberusaha apapun kita insya allah, yang namanya rezeki ngga akan kemana kok.
balik lagi ke jurusan tadi. jurusan. aku baru sekali merasakan pilihan yang sebegini mesti difikir mateng-mateng. aku punya pengalaman. dan aku ingin kalian mengambil hikmahnya.
papa sering banget nanya soal jurusan sama kuliah : nindy harus udah punya bayangan mau ngambil jurusan apa. aku sampe hafal betul pengucapan serta intonasinya jika papa mulai memebawa-bawa jurusan ke arah pembicaraan. oke, sekedar informasi. papa menginginkan aku masuk ke jurusan yang bisa dibilang "serius" kayak akuntansi, manajemen, administrasi niaga yaa sejenisnyalah(aku anak IPS). sedangkan mama, menginginkan aku setidaknya memilih jurusan yang bisa memberi pekerjaan yang dapat membantu orang banyak. kayak ngambil akademi keperawatan biar jadi suster.
but, did you know? aku ngga pengen ngambil salah satu jurusan dari keduanya. aku suka sama bidang yang mungkin bersebrangan dengan pemikiran papa dan mama. aku suka nyanyi, aku suka seni, aku suka sejarah aku suka bahasa inggris. aku suka akuntansi tapi hanya sekedar suka bukan tertarik untuk dipelajari secara mendalam.
aku berupaya keras untuk meyakinkan papa tentang ini. percaya ngga, itu susah banget. papa keras soal ini. aku tau, papa sayang aku dan beliau ngga mau aku salah memilih jurusan.
aku mencoba sabar. dan akhirnya waktu itu datang juga. kalo ngga salah hari minggu kamu sekeluarga menghabiskan waktu bareng (karena papa dinas di jakarta jadi minggu itu waktunya ngumpul keluarga) terus, waktu lagi di jalan, papa bilang kalo ada anak temennya yang berhenti kuliah. bukan karena ngga mampu. bukan karena malas. tapi karena anak itu ngerasa ini bukan jurusan yang "dari hati".
papa juga cerita kalo sekarang itu yang penting, terserah anaknya asalkan orang tua memonitor dan memberikan yang terbaik. bukan mendoktrin agar masuk jurusan yang dicitacitakan orangtuanya dulu. banyak sekali orang tua yang demikian -yang mengarahkan anaknya agar masuk jurusan yang diinginkannya dulu- well, aku ngga segan-segan menyebut orang tua itu egois. kenapa? wong sudah jelasjelas gitu yang mu kuliah anaknya kan bukan bapaknya atau ibunya.
finally, aku mendaftar ke sebuah PTN. saat pengisian formulir begitu biasa disebut aku bilang kalo aku milih FIKOM(fakultas komunikasi) dan HI(hubungan internasional) sebagai pilihan keduanya.
hati papa menjadi lunak, meskipun awalnya papa sangat ngga setuju aku ngambil HI untuk cadangan. tapi aku bilang dengan nada merendah : nindy tau papa ngga mau nindy kayak anaknya temen papa yang ngambil jurusan HI tapi malah kerja di TELKOM. nindy punya citacita pa. nindy punya mimpi. dan itu bukan di jurusan akuntansi atau manajemen. ini citacita nindy, kasih nindy kesempatan buat milih jalan nindy. insya allah nindy tanggung jawab dengan jurusan yang nindy pilih karena ini, jurusan ini nindy pilih dari hati pa. bukan karena apapun.
oke. apa yang aku alami saat ini, aku sama sekali ngga pengen terjadi sama anak aku nanti. aku pengen, anak aku nanti bisa memilih citacita dan bisa mengejar mimpinya dari hati. bukan karena aku, orang tuanya.
asalkan kita bisa membawa orang tua kita yakin dan percaya sama kita, asalkan kita bisa tanggung jawab dengan jalan yang kita pilih, pasti, pasti orang tua kita dengan ridho lillahita'alla akan merestui kita.
tiga kata : ikuti kata hatimu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar